Tampilkan postingan dengan label All About Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2009

TANDA-TANDA JATUH CINTA

TANDA-TANDA JATUH CINTA



Tanda-tanda jatuh cinta...

Ketika kamu sdg bersama dia, kau berlagak mengacuhkannya. Tapi ketika dia tidak ada, kamu berusaha mencarinya. Pada saat itu, kamu sedang jatuh cinta.

Walaupun ada orang lain yg selalu membuatmu tertawa, mata dan perhatianmu hanya tertuju pada si dia. Maka, kamu sedang jatuh cinta.

Walaupun seharusnya dia sudah meneleponmu ntuk memberitahu kabarnya,
tapi teleponmu tak berdering. Dan kau terus menunggu telepon itu. Pada saat
itu, kamu sedang jatuh cinta.

Jika kamu lebih tertarik dengan e-mail pendek darinya daripada e-mail yg
panjang dan orang lain, kamu sedang jatuh cinta.

Jika kamu tak bisa menghapus smua sms dim hpmu karena ada 1 sms dan dia,
maka kamu sedang jatuh cinta.

Ketika kamu mendapat sepasang tiket gratis menon ton film, kamu tidak akan
pusing2 untuk langsung mengajak dia. Pada saat itu kamu sedang jatuh cinta.

Kamu selalu bilang pada dirimu, ”dia hanyalah temanku,“ tapi kamu
menyadari kamu tidak bisa menghindari daya tariknya. Pada saat itu, kamu
sedang jatuh cinta.

Jika kamu sedang membaca message ini dan seseorang muncul dalam
pikiranmu, maka kamu sedang jatuh cinta pada orang itu!!

VERBALISASI CINTA

Wacana ini saya dapat dari Blog salah satu dosen saya www.sbektiistianto.wordpress.com. Bisa jadi lewat kisah ini kita dapat memetik sebuah pelajaran bagi saya maupun anda dalam membina rumah tangga. Saya ucapkan terimakasih kepada Pak Bekti yang mau berbagi kisah.



VERBALISASI CINTA


Ketika istri saya memberi hadiah sebuah buku ‘Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga’ karangan Ust. Anis Matta, saya merasa ditelanjangi, khususnya judul kedua, ketiga dan keempat. Kenapa? Karena selama empat tahun lebih saya menikah, bisa dihitung jari saya mengucapkan kata cinta kepada istri. Bahkan, mungkin bisa jadi tidak pernah. Beberapa kali istri saya menanyakan “Sebenarnya Abi cinta Umi nggak?”” Selalu saya jawab “Kalau nggak cinta kenapa masih di sini, bersama Umi dan kalau nggak cinta kan juga nggak akan ada anak-anak”.
Saya bukannya tidak bisa mengatakan sayang atau cinta. Kepada anak-anak, saya sering mengatakannya. Tapi kepada istri, saya tidak tahu kenapa terasa sangat berat. Saya selalu mempunyai semacam ‘keangkuhan’ untuk mengatakan ‘saya cinta kamu’. Saya selalu merasa tidak punya waktu untuk itu. Bisa jadi hal ini disebabkan banyak hal. Pertama, keluarga saya mendidik untuk tidak pernah mengucapkan pernyataan atau ekspresi perhatian cinta secara verbal. Kedua, apalagi saya selalu berpegang teguh pada prinsip yang namanya cinta tidak perlu diobral. Barang siapa yang sering mengatakannya berarti hanya sekadar basa-basi, ucapan gombal yang tidak bermakna. Menurut saya cinta adalah sebuah ekspresi, sebuah pernyataan atau bahkan sebuah bukti tanggung jawab. Karenanya dalam hidup berumah tangga terpenting adalah tidak menyatakan dalam bentuk ucapan tapi justru pada bentuk amal yang bisa dilihat dan dirasakan. Saya sering mengatakan pembuktian cinta bukan hanya di mulut tapi pada tindakan. Selama saya memenuhi kewajiban saya berarti saya selalu mencintai. Ketiga, proses pernikahan saya sendiri yang sangat cepat, dari ta’aruf sampai walimah hanya membutuhkanwaktu 2 minggu. Dan ini membuat saya merasa kesulitan mencoba mengatakan cinta kepada istri saya. Keempat.tidak terlalu mulusnya proses pernikahan kami karena hambatan keluarga besar pihak istri, membuat saya merasa mempunyai perasaan lain untuk menunjukkan siapa saya yang sebenarnya. Akhirnya, mungkin menjadi sebuah ‘dendam terselubung’ bahwa mengatakan ekspresi perasaan cinta adalah sebuah hal yang ‘tabu’. Sebuah hal yang menurut Ust. Anis Matta perlu diluruskan.
Ternyata keempat prinsip saya tersebut perlu pembahasan lebih lanjut. Ke-arogan-an saya untuk menolak mengekspresikan secara verbal perasaan cinta mesti mendapat sebuah pengenceran bahkan kalau perlu peluluhan, sehingga hal ini tidak menjadi kendala hubungan rumah tangga kami di masa depan. Meskipun sampai sekarang ini istri saya tidak pernah menuntut saya, tapi secara naluri saya sadar istri saya butuh ekspresi verbal itu dari saya. Kata salah seorang teman, pemuasan kebutuhan istri itu tidak sekadar lahir dan batin yang sama-sama kita ketahui tapi ‘pegekspresian perasaan cinta’ juga merupakan sebuah pemenuhan kebutuhan batin. Hal itu akan membuat ketenangan dan kedamaian, ibarat seekor burung kecil dan
lemah telah menemukan sangkar kuat yang melindungi, lanjutnya. Apalagi Rasulullah pernah menanyakan bagaimana perasaan cinta seorang sahabat dengan sahabat yang lain itu dilakukan. Beliau bahkan menegaskan ‘sampaikan rasa cintamu (lisan dan langsung) kepada orang yang engkau cintai’ (bahkan tidak dengan lawan jenis) dengan menyuruh menyampaikan secara terbuka.
Seperti seorang petinju, saya mungkin terkena uppercut yang langsung membikin saya KO. Apa betul begitu? Ternyata membina sebuah hubungan cinta tidak semudah yang diangankan. Mencintai adalah sebuah proses, tidak bisa sekaligus jadi dan langsung kuat. Tapi belajar mencintai ternyata sebuah proses yang rumit juga. Rasanya mudah mengatakannya tapi lebih sulit melaksanakannya. Bisa jadi saya baru melakukannya. Kata orang arif, tidaklah perlu merasa malu mengatakan terlambat daripada tidak sama sekali. Apalagi melaksanakan sesuatu lebih baik daripada sekadar mengucapkan tapi tidak melaksanakan.
Pagi itu, mungkin saya telah menemukan sebuah pencerahan akan pentingnya verbalisasi cinta. Saya akan selalu belajar untuk berproses mencintai dan selalu mencintai. Dan azzam saya adalah mengungkapkan ekspresi cinta saya kepada istri minimal lewat tulisan ini. Lebih lanjut, biarkan saya mengintepretasikan cinta dengan makna yang sesungguhnya. Tidak sekadar tindakan tapi juga lewat ucapan yang tentu saja bukan basa-basi tidak bermakna. Mungkin yang saya perlukan adalah bagaimana saya harus memulainya. Masalah sekarang adalah, bagaimana dengan perasaan cinta Anda dengan sahabat Anda (para pelaku da’wah)? Pernahkah Anda menyampaikan ungkapan cinta (karena Allah) ini secara terbuka kepadanya? Bila belum, lakukan ! Karena dengan ungkapan nyata, cinta itu akan menjadi lebih bermakna.

S. Bekti Istiyanto, S. Sos
Penulis adalah Bapak dua anak tinggal di Purwokerto, yang selalu mencoba mencintai.

CINTA APA ADANYA

Saya mendapat wacana ini secara tidak sengaja, kemudian saya copy paste ke microsoft word, namun saya lupa meng-copy sumbernya. Jadi, saya meminta maaf bagi pihak yang merasa menulis artikel ini. Cophyrightnya tetap pada penulis yang "unknown." Semoga kisah ini dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kita.



CINTA APA ADANYA


Suatu hari saya dikunjungi oleh teman saya yang sudah berumah tangga, sebut saja Ika, dia bercerita :

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Akhirnya dia bertanya,:
"Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,
"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya : Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati, Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata,
"Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang bertuliskan. …
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya… "

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer namun selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. "

"Kamu selalu pegal-2 pada waktu ’teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ’aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku." "Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. "

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu. "

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat cintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.